SOSOK

H Heri Amalindo : Utamakan Kinerja dan Kepribadian yang Baik

PENAMPILAN sederhana dan merakyat tercermin dari keseharian yang ditunjukkan dari seorang Ir H Heri Amalindo MM yang saat ini diberi amanah sebagai Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Kesederhanaannya terlihat dari lugasnya dalam berbicara dan berkomunikasi kepada awak media, saat KabarSriwijaya.com diberi kesempatan bersilaturahmi dan berdiskusi secara langsung bertempat di RM Sri Melayu Palembang, Rabu (18/01/2017).

Suami dari Hj. Sri Kustina ini menyelesaikan pendidikan di SMP Xaverius II Palembang (1976-1979), SMA Negeri 4 Yogyakarta (1979-1982) dan Jurusan Teknik Sipil Universitas Sriwijaya (1982-1988).

Putra kelahiran Desa Air Hitam ini mengawali karier sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Musi Banyuasin dan sejak 2009 dipercaya menjadi kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sumatera Selatan hingga pelantikannya sebagai Penjabat Bupati pada Tanggal 22 April 2013.

Dirinya mengungkapkan bahwa dalam memimpin sebuah amanah dan jabatan diperlukan keseimbangan antara kinerja dan kepribadian. Karena selain kinerja, kepribadian juga mencerminkan jiwa kepemimpinan seseorang.

Bupati yang telah mengabdikan diri selama 26 tahun sebagai abdi Negara yaitu sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini selalu membangun aura positif dalam berkomunikasi dan bersosialisasi kepada masyarakat, salah satunya dengan menebar senyum dan kebaikan.

“Dengan menebar kebaikan, insya ALLAH kita juga akan menuai hal kebaikan pula,” katanya saat berbincang bersama awak media dan juga salah satu mahasiswa pasca (S2) dari Universitas Mercubuana, Septiandy yang menjadikan sosok Ir H Heri Amalindo sebagai objek penelitian tesisnya.

Lebih lanjut Heri Amalindo mengutarakan visinya agar kabupaten yang dipimpinnya yaitu Kab PALI dapat mengejar ketertinggalan dari Kab/Kota lainnya, dan dapat menjadikan Kab PALI sebagai daerah Metropolitan di Prov Sumsel selain Kota Palembang.

“Dalam menggapai visi tersebut dibutuhkan kebersatuan berbagai pihak. Baik eksekutif maupun legislatif termasuk masyarakat,” ujarnya.

Dirinya menganalogikan sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, yang dapat diraih karena rakyatnya bersatu. Dan kondisi Negara Suriah yang awalnya merupakan Negara Ke-4 Terkaya di dunia bisa “hancur” karena perang saudara dan tidak adanya kebersatuan.

Selain kebersatuan, mantan Kepala Dinas PU Bina Marga Kab Muba dan Prov Sumsel ini mengungkapkan bahwa butuh keterbukaan dalam memimpin. Karena dengan membuka diri dapat lebih mengetahui kekurangan, baik dalam mengenal sikap diri maupun kebijakan yang diambil untuk masyarakat agar dapat melakukan perbaikan ke arah yang lebih baik.

“Memimpin itu harus dekat dengan rakyat, jadi bisa mengetahui kondisi dan keinginan rakyat secara langsung,” terangnya.

Ayah dari Rahmad Sahid Amalindo dan Nurmalia Putri Amalindo ini berpesan agar kita semua punya keyakinan bahwa Allah itu adil, karena kita akan menuai hasil seperti apa yang telah kita perbuat.

“Man Jadda Wa Jada, Siapa yang bersungguh-sungguh maka ia yang akan memetik hasilnya,” tutupnya. (HS)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close