OPINI

“Mutiara” Musi yang Tersembunyi dalam Pusaran Pilkada Mura 2020

BERDASARKAN data dari KPU RI bahwa akan ada 224 kabupaten yang akan mengadakan hajatan pilkada serentak, yang akan dilaksanakan pada 23 September 2020 nanti. Salah satunya adalah Kabupaten Musi Rawas.

Sependek pengamatan penulis baik di media mainstream maupun di media sosial serta hasil diskusi dengan banyak pihak, di Kabupaten dengan slogan Lan Serasan Sekentenan ini, kecuali petahana, belum ada tokoh-tokoh yang muncul sebagai calon orang nomor satu guna mengikuti kontestasi Pemilukada tahun depan.

Mafhum kita ketahui bahwa bila seseorang ingin mencalonkan sebagai Cakada wajib memiliki syarat minimal yakni modalitas popularitas. Dengan hanya tersisa waktu 13 bulan lagi dan belajar dari pengalaman Pilkada Mura 2015, popularitas dan timses tidak bisa dibentuk dalam waktu yang singkat.

MENCERMATI MANUVER PARA POLITISI MUDA

Salah satu faktor yang sangat menguntungkan Bapak Hendra Gunawan (Bupati Petahana) adalah karena relatif pendeknya interval waktu antara ajang pemilu legislatif dengan jadwal pelaksanaan pilkada.

Sederhananya, bagi caleg terpilih terlalu besar pertaruhannya jika memaksakan diri untuk ikut ambil bagian dalam kompetisi pilkada. Karena wajib mundur sebagai anggota DPRD. Sungguh itu merupakan sebuah pilihan penuh resiko.

Sebaliknya, bagi caleg yang gagal, terlalu sempit waktu yang tersedia untuk “move on” dan mengumpulkan kekuatan melawan petahana yang terkenal dengan akronim H2G ini.

Anti tesis dari calon Bupati yang nyaris sepi, riak-riak kecil justru muncul dari beberapa politisi muda yang digadang-gadang siap berkompetisi sebagai Wakil Bupati.

Maka tidak mengherankan dan menarik untuk dicermati bahwa segala manuver yang dilakukan, sejauh ini adalah untuk menggoda agar digaet dan berpasangan dengan petahana.

Sebuah pilihan cerdas, ketimbang berdarah-darah dan beresiko kalah jika harus berhadapan dengan incumbent, bersikap realistis dengan memilih sebagai orang nomor dua bukanlah sebuah pilihan buruk. Karena dengan predikat tersebut artinya terbuka lebar tiket menuju Musi Rawas Satu pada pilkada tahun 2024.

Di mana saat itu pilkada akan dimulai dari angka nol karena H2G (jika berhasil memenangkan pilkada Mura) sebagai Bupati yang sudah menjabat dua periode, otomatis tidak bisa lagi ikut dalam kontestasi pilkada Kabupaten Musi Rawas.

KEPADA SIAPA PILIHAN PETAHANA BERLABUH?

Asumsi penulis dengan sepinya penantang membuat H2G sebagai kepala daerah petahana akan lebih leluasa dalam menentukan pendampingnya.

Prediksi penulis, figur yang beliau pilih sebagai Cawabup adalah sosok yang memiliki popularitas, berpengalaman, berintegritas, memiliki kemampuan manajemen, dan tak kalah penting adalah pendamping yang memiliki “chemistry” untuk mengeksekusi program-program yang nanti akan dicanangkan.

Selain itu, karena secara geopolitik, ada dua suku mayoritas di Kabupaten yang baru saja sukses mengentaskan sebagai daerah tertinggal, yakni Suku Jawa dan Musi.

Bila tokoh dari suku Jawa yang dipilih, maka Wakil Bupati sekarang yakni Ibu Suwarti Burlian merupakan satu-satunya figur yang layak untuk dipinang kembali. Namun, jika tokoh Musi yang menjadi pilihan, tanpa bermaksud menafikan sekian banyak figur yang ada, Bapak Amir Hamzah (AH) yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris DPRD Kab. Musi Rawas, hemat penulis layak untuk dipertimbangkan.

MENGAPA (HARUS) AMIR HAMZAH?

Seperti yang sudah penulis uraikan di atas, figur beliau sudah memenuhi semua unsur sebagai Wakil Bupati. Baik dari segi pengalaman, kompetensi manajemen, dan tak kalah penting, tak bisa dipungkiri, antara AH dengan H2G telah terjalin kecocokan dalam waktu yang lama.

Dalam pada itu, sebagai birokrat yang memiliki rekam jejak yang diakui saat memegang jabatan di berbagai instansi. Dari mulai sebagai Lurah di Megang Sakti, Sekcam di Kecamatan Muara Lakitan, Camat di Kecamatan Sumber Harta. Tentu, (meminjam istilah kekinian) Figur seorang AH bukanlah kaleng-kaleng.

Nilai plus lainnya, AH dengan jabatannya sekarang sebagai Sekretaris DPRD Kab. Musi Rawas, tentu dalam kesehariannya banyak bergaul dengan para politisi. Ditambah keberhasilan putra sulungnya yang merupakan salah satu calih peraih suara terbanyak di ajang Pileg 2019, semakin membuktikan kapabilitas beliau sebagai sosok yang sangat pantas dipertimbangkan untuk dipinang sebagai Cawabup di ajang Pilkada Mura tahun depan.

Penulis membayangkan, dengan latar belakang AH sebagai birokrat yang lurus dan dikombinasi dengan kebersahajaan kepribadian, serta luasnya pergaulan beliau, (nyaris) tidak akan melahirkan letupan-letupan penolakan dari sejumlah tokoh Musi yang memiliki kans untuk bertarung di arena Pilkada Mura. Singkatnya, AH bisa menjadi perekat bagi serpihan-serpihan persaingan sesama tokoh Musi.

Selain itu, gaya kepemimpinan AH yang santun tak akan memaksakan diri menjadi pusat perhatian publik. Ia akan menempatkan diri sebagai orang nomor dua yang akan fokus membantu Bupati dari dalam ruang kerjanya guna mengelola aspek-aspek berbagai kebijakan.

Dalam konteks resistensi keretakan hubungan tersebab persaingan terselubung atau konflik kepentingan yang terang benderang antara orang nomor satu dan nomor dua yang lumrah terjadi di berbagai daerah, kehadiran AH andaikata dipinang H2G dan mereka berhasil keluar sebagai jawara, dapat dipastikan tidak akan terjadi.

Namun, semuanya tergantung dengan situasi dan kondisi politik ke depan. Politik itu dinamis, yang dalam hitungan detik bisa berubah dan melahirkan kejutan-kejutan yang kadang jauh dari prediksi.

Setidaknya, dari sekian banyak tokoh asal Musi yang memiliki kans sebagai Cawabup, AH adalah “Mutiara” Musi yang tersembunyi dalam Pusaran Pilkada Mura 2020.

Bagaimana menurut, Anda?

*) Penulis merupakan seorang Pengamat Pinggiran

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Back to top button
Close