DAERAHMusi Banyuasin

Aliansi BAHARI Desak Pemerintah Hentikan Project Suban Compression

Musi Banyuasin, KabarSriwijaya.com – Menindaklanjuti terkait laporan Masyarakat di seputaran kawasan Desa Lubuk Bintialo Kecamatan Batanghari Leko dan Desa Macang Sakti Kec. Sanga Desa Kabupaten Musi Banyuasin tentang Dugaan Pengrusakan Lingkungan akibat keberadaan Project Suban Compression di Lahan Konsesi PT ConocoPhillips (Grissik) Ltd, Sejumlah aktivis pemerhati Lingkungan Hidup di Sumatera Selatan yang tergabung dalam Barisan Aktifis Hijau Sriwijaya (BAHARI) melakukan Investigasi ke areal eksplorasi Block Coridor Suban Compression.

Investigasi dan Peninjauan Lapangan oleh Aliansi Bahari tersebut, diikuti oleh sejumlah organisasi diantaranya DPP Gerakan Pembaharu Pemuda (Garuda), LPIB Sumsel, Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (HMPI) Sumsel mewakili Civitas Akademik, dan Perwakilan Forum Komunikasi Mahasiswa Daerah (FKMD) Sumsel pada beberapa hari lalu sejak Minggu s.d Senin (5-6 Januari 2020) di tempat kejadian perkara (TKP).

Koordinator Barisan Aktifis Hijau Sriwijaya (BAHARI), Jhon Kenedy SY menuturkan bahwa berdasarkan fakta lapangan, benar dan nyata terlihat terjadi Dugaan Pengrusakan Lingkungan yang luar biasa terjadi, bahkan diduga terjadi perubahan alih fungsi Sungai Mangkading, serta dugaan pembunuhan massal terhadap Ekosistem sekitarnya yang berefek atau terdampak oleh aktivitas Project Suban Compression di Desa Lubuk Bintialo Kecamatan Batanghari Leko Kabupaten Muba.

“Berdasarkan penelusuran yang kami lakukan, dulunya kawasan sungai Mangkading ini menjadi sungai aktif bagi masyarakat setempat usai mereka berkebun, namun sekarang kondisinya sangat memprihatikan, mengering, berubah warna, bahkan hanya berisi pasir-pasir putih yang Diduga Kuat akibat dari Pembuangan limbah pemboran, Sludge pada saat pencucian tangki penimbunan, Pengelolaan Lumpur Bor, Limbah Lumpur dan Serbuk Bor Pada Kegiatan Pengeboran Minyak dan Gas Bumi di areal Project Suban Compression ini,” ungkapnya kepada awak media, Kamis (9/1/2020).

Lebih lanjut dikatakan Jhon, padahal jika melihat Matriks Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Hidup (RPL) dalam kegiatan Pembukaan lahan/hutan untuk lokasi pemboran, jalan, jalur pipa dan pembangunan baru stasiun pengumpul dan pengola gas Suban dalam agenda Project Suban Compression yang tertuang pada Lampiran KEP.MENLHK No. SK 403/Menlhk/ Setjen/ PLA 4/8/2017 Tentang Izin Lingkungan Kegiatan Pengembangan Lapangan Minyak dan Gas Bumi di Blok Corridor, Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan oleh ConocoPhillips (Grissik) Ltd, jelas semuanya disebutkan mulai pada Pra Kontruksi hingga Pasca Operasi.

“Dalam matriks RPL tersebut semua jelas ditulis, bahwa PT ConocoPhillips (Grissik) Ltd, mesti melakukan pengelolaan dan pemantauan Lingkungan terhadap Dampak yang ditimbulkan, seperti Penurunan kualitas Air (Sumur dan Sungai) disebutkan bahwa ConocoPhillips mesti Mempertahankan fungsi dan keberadaan air permukaan di lokasi kegiatan operasi, seperti melakukan Iventarisasi adanya sungai kali dan saluran air (sebagai jalur jelajah), yang berpotongan dengan jalur pipa flowline yang akan dipasang di atas permukaan tanah, membuat bak control penampung, drainase pembuangan limbah bor dan lain sebagainya, namun fakta dan temuan di lapangan tidak begitu adanya,” beber pria yang juga Keturunan asli Kabupaten Muba ini.

Senada dengan hal tersebut, Febri Zulian Saibul selaku Direktur LPIB Sumsel yang tergabung dalam Tim Investigasi BAHARI ini, menjelaskan bahwa selain itu, ada dugaan pelanggaran ‘Environmental Crime’ atau Kriminalisasi Lingkungan yang seolah-olah dibiarkan terjadi begitu saja, seperti Daerah Aliran Sungai (DAS) yang kuat dugaan merupakan dampak negatif dari Project Suban Compression. Selain efek terhadap lingkungan dan ekosistem, juga berdampak terjadinya Gangguan aksesibilitas Masyarakat seperti kerusakan Lahan Kebun Warga yang terendam akibat banjir hingga mengalami kerugian secara materil maupun immateril, dan gangguan keselamatan Masyarakat karena dinilai jalur perpipaan di areal tersebut rawan.

“Bagaimana tidak rawan, sebab sepanjang lokasi Sungai yang berada diluar Project Suban Compression mengering dan mengeluarkan pasir-pasir putih yang diduga efek dari aliran Pipanisasi Migas, yang katanya masih dalam tahap uji coba sejak rampung november 2019 lalu (lebih kurang 2 bulan operasi) telah berdampak sedemikian rupa, bayangkan jika hingga 20 tahun kedepan izin Konsesi blok Coridor ini berjalan, bisa dibayangkan seperti apa jadinya, bukan tidak mungkin mengancam Aliran Sungai dan resapan Air yang lebih besar, jika sejauh ini saja sudah abai, dan tidak sejalan dengan PP No.82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air, pasal 25 yang menyebutkan Setiap usaha dan atau kegiatan wajib membuat rencana penanggulangan pencemaran air pada keadaan darurat dan atau keadaan yang tidak terduga lainnya,” terang Inisator Aktifis Lintas Generasi Sumsel ini didampingi Ketua Umum HMPI Sumsel.

Menurutnya, Praktek Dugaan Pengrusakan Lingkungan ini mesti ditanggapi bersama sejumlah pihak, tidak terkecuali seluruh elemen organisasi aktifis Lingkungan Hidup, Masyarakat Peduli Lingkungan, bahkan Organisasi Internasional (NGO Go Green) untuk sama-sama menginvestigasi bahkan meng-Advokasi dugaan kuat Kerusakan Lingkungan yang luar biasa dilakukan perusahaan ternama asal United State of America (USA) PT. ConocoPhillips (Grissik) Ltd di Desa Lubuk Bintialo Kecamatan Batanghari Leko Kabupaten Musi Banyuasin.

“Berdasarkan hasil kajian dan simpulan kami Barisan Aktifis Hijau Sriwijaya (BAHARI) yang juga kami tuangkan dalam berkas Laporan hasil Investigasi dan Temuan di Lapangan yang nantinya akan bersurat secara resmi, dengan ini kami sampaikan kepada Presiden RI Joko Widodo memalui Menteri ESDM, Menteri KLHK, Kepala SKK Migas, DPD RI Dapil Sumsel, Pimpinan Komisi VII DPR RI, Gubernur Sumsel, Kepolisian Daerah (POLDA) Sumsel, dan Pemerintah setempat khususnya Bupati Musi Banyuasin, untuk dapat menerima pointer tuntutan terkait Dugaan Kuat Pengrusakan Lingkungan oleh PT ConocoPhillips (Grissik) Ltd, diantaranya ;

Pertama, Mendesak kepada Aparat penegak hukum dalam hal ini Polda Sumsel beserta jajarannya untuk segera melakukan Penyidikan dan penyelidikan terkait berbagai dugaan pengrusakan lingkungan pada aktivitas project Suban Compression sebagaimana dimaksud berdasarkan UU dan ketentuan hukum yang berlaku;

Kedua, Mendesak kepada Manajemen Perusahaan terkait (Perusahaan KKKS) melalui Kepala SKK Migas untuk segera menghentikan Operasional Project Suban Compression di Desa Lubuk Bintialo Kabupaten Musi Banyuasin hingga dilakukan Rehabilitasi Lingkungan diareal Project tersebut; dan

Ketiga, jika aktivitas itu tetap dilakukan dan diabaikan, maka SKK Migas, Pemerintah dan atau Pemangku kebijakan terkait, sudah seharusnya mengkaji ulang Izin Wilayah Konsesi Blok Coridor PT ConocoPhillips Grissik Ltd, bahkan dalam hal ini kami mendesak agar Pemerintah membatalkan perpanjangan kontrak perusahaan tersebut hingga batas tahun 2023 saja.

Sementara itu, Satgas Percepatan Penyelesaian Konflik Agraria (P2KA) Muba Adiosyafri melalui Anggotanya Amrullah,S.Sos yang juga terlibat dalam investigasi bersama Tim BAHARI, menuturkan bahwa pihaknya mendapatkan laporan warga petani sawit yang mengadukan kondisi lahan perkebunan milik mereka yang mengalami kerusakan akibat dampak dari project Suban Compression. “Yahh kita sudah menerima laporan masyarakat petani sawit yang ada di desa lubuk bintialo ini, akan kita kaji dan tindak lanjuti segera bersama Tim Satgas P2KA,” tutupnya singkat. (RLS)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close