EkonomiINTERNASIONALNASIONAL

Bitcoin Diprediksi Stabil di US$75.000, Tapi Pasar Masih Rapuh Usai Crash Tajam

Jakarta, KabarSriwijaya.com — Pasar prediksi cryptocurrency menunjukkan Bitcoin (BTC) berpotensi bergerak dalam kisaran sempit hingga akhir Februari 2026, meski volatilitas aset digital masih tinggi setelah penurunan tajam dalam sepekan terakhir.

Berdasarkan data terbaru, Bitcoin diperkirakan mampu menutup bulan di atas level US$70.000, menandai pemulihan signifikan setelah sebelumnya sempat jatuh di bawah US$65.000.

Platform prediksi Polymarket mengindikasikan bahwa level US$75.000 menjadi target harga paling mungkin dicapai Bitcoin pada akhir Februari, dengan probabilitas tertinggi mencapai 54%. Kondisi ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap fase konsolidasi, bukan pergerakan ekstrem dalam waktu dekat.

Namun demikian, skenario penurunan masih diperhitungkan. Peluang Bitcoin turun menuju US$60.000 tercatat sebesar 42%, sementara kemungkinan melemah hingga US$55.000 berada di kisaran 23%. Hal ini menunjukkan kewaspadaan investor di tengah ketidakpastian makroekonomi global.

Di sisi lain, peluang kenaikan lebih tinggi dinilai lebih terbatas. Level US$80.000 hanya memiliki probabilitas 25%, sedangkan target US$85.000 sekitar 12%. Prediksi harga di atas US$100.000 bahkan berada pada probabilitas satu digit, menandakan pasar saat ini lebih condong pada stabilitas ketimbang reli besar.

loading...

Bitcoin Pulih Setelah Penurunan Drastis

Prediksi tersebut muncul setelah Bitcoin mengalami pergerakan ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Mata uang kripto terbesar ini sempat melonjak kembali di atas US$70.000 pada Jumat, setelah sehari sebelumnya jatuh mendekati US$60.000 dalam salah satu penurunan harian terdalam dalam beberapa tahun terakhir.

Pada saat laporan ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan di level US$68.314, naik lebih dari 3% dalam 24 jam terakhir.

Kenaikan tersebut menjadi persentase penguatan harian terbesar sejak awal 2023, dengan volume perdagangan mencapai sekitar US$90 miliar dan kapitalisasi pasar mendekati US$1,37 triliun.

BACA JUGA :  Masyarakat Harus Mengedepankan Nilai-Nilai Keberagaman

Pemulihan terjadi setelah aksi jual tajam pada Kamis yang sempat menekan harga Bitcoin ke level terendah sejak Oktober 2024. Penurunan itu juga memicu likuidasi lebih dari US$2,6 miliar di pasar kripto.

Analis menilai tekanan harga dipengaruhi oleh sentimen risk-off, kenaikan imbal hasil Treasury AS, ketidakpastian makroekonomi, serta arus keluar besar dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.

Meski rebound pada Jumat meredakan kekhawatiran penurunan lebih dalam, sentimen pasar dinilai masih rapuh. Investor kini memantau area support di kisaran US$60.000–US$65.000, serta resistance utama di dekat US$75.000 jika momentum penguatan berlanjut.

Volatilitas Bitcoin diperkirakan tetap tinggi, meskipun adopsi institusional terhadap aset kripto terus meningkat.


(Berita ini telah tayang di www.kontan.co.id)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close