
Oleh: Rio Solehuddin
Dalam politik, satu tahun adalah ujian arah. Ia bukan sekadar hitungan kalender, melainkan ukuran keberanian mengambil keputusan dan konsistensi menjalankan kepemimpinan. Dalam konteks Kota , satu tahun kepemimpinan bersama Prima Salam menghadirkan satu pertanyaan mendasar: apakah kota ini benar-benar bergerak, atau hanya berganti slogan?
Data memberi gambaran yang relatif terang. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,82 persen. Angka pengangguran menurun menjadi 6,98 persen. Kemiskinan turun dari 9,77 persen pada 2024 menjadi 9,04 persen pada 2025. Indeks Pembangunan Manusia meningkat menjadi 83,27 persen dan masuk kategori sangat tinggi dengan pertumbuhan 1,19 persen. Di tengah tekanan ekonomi nasional dan ketidakpastian global, capaian ini bukan sekadar statistik. Ia menunjukkan adanya stabilitas dan arah kebijakan yang konsisten.
Namun angka hanyalah permukaan. Yang lebih penting adalah pola kepemimpinan. Ratu Dewa memperlihatkan gaya yang tidak berhenti pada meja rapat. Ia turun langsung, mendengar, memutuskan, dan mengawal. Ketika akses kesehatan menjadi keluhan, layanan kesehatan gratis diperluas dan respons darurat dipercepat. Ketika pekerja rentan tak memiliki perlindungan, jaminan sosial diperluas. UMKM yang tertekan pasar didorong masuk ke ekosistem digital dan diberi akses permodalan. Infrastruktur yang rusak tidak lagi menunggu viral untuk diperbaiki.
Ini bukan sekadar administrasi rutin. Ini adalah politik keputusan. Dan setiap keputusan politik selalu menunjukkan keberpihakan. Dalam satu tahun ini, keberpihakan itu tampak diarahkan pada warga kecil dan kelompok rentan.
Palembang terlalu lama akrab dengan birokrasi lambat, program terfragmentasi, serta pembangunan yang sporadis. Satu tahun terakhir memperlihatkan upaya memutus pola lama tersebut. Layanan administrasi mulai distandarkan, pengaduan masyarakat ditangani lebih cepat, infrastruktur dikelola dengan sistem, ruang publik direvitalisasi, bank sampah diperluas, dan target cakupan air bersih dikejar hingga 100 persen. Pesannya jelas: pemerintahan tidak boleh berjalan biasa-biasa saja.
Di titik ini, publik perlu jujur melihat arah. Kota sedang berada pada fase konsolidasi dan percepatan. Fondasi telah diletakkan, sistem mulai dibangun, dan kepercayaan publik mulai tumbuh. Pertanyaannya, apakah arah ini akan diperkuat atau justru diganggu oleh eksperimen politik yang tidak perlu? Kota membutuhkan stabilitas untuk tumbuh dan konsistensi untuk maju. Perubahan kepemimpinan yang terlalu sering kerap berarti memulai ulang dari nol—sesuatu yang mahal secara waktu dan energi.
Tentu, belum semua persoalan selesai. Stunting masih menjadi pekerjaan besar. Pemerataan kualitas layanan publik perlu diperkuat. Transformasi ekonomi produktif harus dipercepat agar bantuan sosial bermuara pada kemandirian. Namun perbedaannya terletak pada pendekatan: persoalan tidak disembunyikan, melainkan dihadapi. Kepemimpinan yang kuat bukanlah yang tanpa kritik, melainkan yang mampu menjawab kritik dengan kerja nyata.
Dalam politik lokal, legitimasi tidak dibangun oleh baliho dan seremonial. Ia tumbuh dari pengalaman sehari-hari warga. Ketika pelayanan lebih cepat, bantuan tepat sasaran, keluhan direspons, dan jalan diperbaiki tanpa harus menjadi viral, di situlah kepercayaan terbangun. Kepercayaan adalah modal terbesar pembangunan—dan modal itu sedang diupayakan.
Satu tahun kepemimpinan bukan sekadar momen evaluasi, tetapi juga momentum konsolidasi. Konsolidasi birokrasi agar lebih profesional. Konsolidasi program agar lebih terintegrasi. Dan yang paling penting, konsolidasi dukungan publik agar arah pembangunan tidak goyah. Visi “Palembang Berdaya” dan “Palembang Sejahtera” menuntut keberlanjutan, bukan jeda.
Sejarah kota selalu ditentukan oleh pilihan: bertahan dalam pola lama yang nyaman namun lambat, atau melanjutkan arah baru yang lebih tegas dan terukur. Satu tahun ini menunjukkan bahwa Palembang memilih bergerak. Fondasi sudah dibangun, arah sudah terlihat.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan itu ada. Pertanyaannya adalah: apakah kita akan memperkuatnya, atau membiarkannya terhenti?
Palembang tidak membutuhkan kegaduhan politik. Palembang membutuhkan kesinambungan. Dan dalam satu tahun ini, arah itu telah tampak. Jika kota ini ingin benar-benar berdaya dan sejahtera, maka stabilitas kepemimpinan yang bekerja bukan sekadar pilihan tambahan—ia adalah kebutuhan.