SUMSEL

Perspektif Praktisi Hukum Soal Maraknya Kasus Pelecehan Seksual di Lingkungan Kampus

Palembang, KabarSriwijaya.com – Tindak pelecehan seksual tidak pandang bulu, baik siapa yang berisiko menjadi korban maupun siapa yang menjadi pelaku.

Tindak pelecehan dan kekerasan seksual yang dikutuk semua pihak ini tidak hanya terjadi di zona-zona rawan, tetapi juga kerap terjadi di lembaga pendidikan, yang seharusnya sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban.

Di institusi pendidikan tinggi, kasus pelecehan seksual belakangan ini makin marak, sebut saja diduga terjadi di Kampus Universitas Riau (Unri) dan Universitas Sriwijaya (Unsri) Sumatera Selatan.

Menanggapi hal ini, Praktisi Hukum, Widodo SH menilai diluar kesan bahwa dunia Perguruan Tinggi (PT) aman-aman saja dari kemungkinan terjadinya tindak pelecehan seksual, ternyata dibalik itu tidak sekali-dua kali terjadi tindak pelecehan seksual yang dialami para insan kampus, terutama dari para dosen ataupun pejabat kampus.

“Hal ini sangat bahaya dan tidak bisa dibiarkan terus terjadi, aparat penegak hukum (APH) harus bertindak cepat dan terukur secara profesional. Dan untuk mencegah kasus seperti ini terjadi, harus dibuat pengaduan yang lebih efektif dan dapat melindungi korbannya,” ujar Widodo kepada awak media ini, Sabtu (04/12/2021).

loading...

Diinformasikannya, Dalam rangka menangani makin maraknya kasus pelecehan seksual di lembaga pendidikan tinggi, belum lama ini telah dikeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021, tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Aturan yang diteken Menteri Nadiem Makarim pada 31 Agustus 2021 itu berlaku mulai tanggal 3 September 2021.

“Dalam Permendikbudristek No 30/2021 ini, selain diatur tentang ancaman sanksi bagi pelaku tindak pelecehan seksual, juga diatur upaya pendampingan, pelindungan, dan pemulihan bagi korban tindak pelecehan seksual di lingkungan PT (perguruan tinggi). Bagi pelaku tindak pelecehan seksual di PT, mereka tidak hanya terancam dikenai sanksi administratif, tetapi juga sanksi berupa pemecatan atau pemberhentian tetap,” terangnya.

BACA JUGA :  PMII PKC Sumsel Siap Kawal Kebijakan Pemerintah

Dirinya juga menerangkan bahwa perbuatan cabul dan pelecehan seksual dalam proses hukum pada tahapan laporan polisi inilah yg membuat orang enggan melaporkan kejadian pelecehan dan perbuatan cabul, karena proses penyelidikan dan penyidikannya terkesan lambat, selain itu juga tidak ada perlindungannya terhadap korban.

“Dalam pasal 184 ayat 1 KUHAP mengatur tentang 5 alat bukti yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. Nah seharusnya dalam kasus ini Jangan disamakan dgn kasus-kasus pidana lainnya dan harus diperlakukan khusus karena pembuktian dalam kasus seperti ini perlu mendengar keterangan ahli dan ahli tersebut haruslah sdh disediakan oleh instansi penyelidikan, tentunya Ahli apa yg harus dilibatkan dalam kasus ini sudah ada dan ditentukan oleh penyidik,” ujarnya.

Ditambahkannya, Janganlah yang ditanyakan hanya berpatokan pada bukti visum, orang yang melihat kejadian saja, dan apalagi untuk keterangan ahli dibebankan kepada pelapor.


“Nah, pemahaman inilah membuat proses pro justia tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga para korban pelecehan seksual, kekerasan seksual bahkan perbuatan cabul enggan untuk melapor. sehingga hal inilah dimanfaatkan oleh predator seksual yang semakin leluasa memangsa korbannya, karena selain ancaman hukumannya ringan, proses pembuktian yg dibuat rumit, dan proses penegakan hukum dalam hal ini proses penyelidikan dan penyidikan acap kali amat sangat lambat,” tambahnya.

“Dan sebaiknya Kompolnas dan ombudsman seluruh Indonesia harus turun tangan menanyakan berapa banyak kasus-kasus perbuatan cabul, kekerasan seksual, pelecehan seksual yang tidak berjalan atau lambat dalam proses penyelidikan dan penyidikan pada instansi kepolisian Polda-Polda seluruh Indonesia dan juga pada Polda Sumatera Selatan.” tutup Widodo. (HS)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close