OPINI

Cegah Stunting untuk Masa Depan Anak lebih Baik

Stunting menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi di negeri ini. menanggapi isu tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, pemerintah daerah perlu terus menggencarkan kampanye untuk mengajak masyarakat gemar makan ikan guna mencegah dan menurunkan prevalensi stunting .

Ia mengatakan bahwa Ikan memiliki kandungan protein hewani yang sangat tinggi yang sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan otak anak.

Muhadjir menambahkan bahwa konsumsi protein sesuai kebutuhan harian anak merupakan salah satu upaya mencegah terjadinya stunting (tirto.id, 12/3/23) Stunting pada anak memang harus menjadi perhatian dan di waspadai. Kondisi ini dapat menandakan bahwa nutrisi anak tidak terpenuhi dengan baik. Jika dibiarkan tanpa penanganan, stunting bisa menimbulkan dampak jangka panjang kepada anak, Anak tidak hanya mengalami hambatan pertumbuhan fisik, tapi nutrisi yang tidak mencukupi juga memengaruhi kekuatan daya tahan tubuh hingga perkembangan otak anak.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah 5 tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan pada masa awal setelah bayi lahir, akan tetapi kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Balita pendek (stunted) dan sangat penting (severety stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U) dan tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS tahun 2006.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes), menunjukkan angka yang cukup menggembirakan terkait masalah stunting. Angka stunting atau anak tumbuh pendek turun dari 37,2 persen pada Riskesdas 2013 menjadi 30,8 persen pada Riskesdas 2018.  Meski tren stunting mengalami penurunan, hal ini masih berada di bawah rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu kurang dari 20 persen. Persentase stunting di Indonesia secara keseluruhan masih tergolong tinggi dan harus mendapat perhatian khusus.

loading...

Sebelum membicarakan lebih jauh tentang upaya pencegahan stunting yang dapat kita lakukan, sebaiknya kita juga mengetahui tentang penyebab stunting itu sendiri. Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita.

Beberapa penyebab stunting sebagai berikut :
1. Praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi, sebelum pada masa kehamilan dan setelah melahirkan.
2. Masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC (ante natal care) atau pelayanan kesehatan ibu selama masa kehamilan, post natal care atau pelayanan setelah melahirkan dan pembelajaran dini yang berkualitas.
3. Masih kurangnya akses rumah tangga atau keluarga pada makanan bergizi.
4. Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi
Beberapa penyebab seperti yang dijelaskan di atas, telah berkontribusi pada masih tingginya prevalensi stunting di Indonesia, dan oleh karenanya diperlukan rencana intervensi yang komprehensif untuk mengurangi prevalensi stunting di Indonesia.

BACA JUGA :  EVALUASI POLITIK FUNGSI PENYELENGGARA PEMILU

Intervensi yang dilakukan pemerintah, kelompokan menjadi intervensi sensitif dan intervensi spesifik. Intervensi gizi spesifik dilakukan oleh sektor kesehatan, melalui Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Intervensi gizi sensitif dilakukan oleh sektor lain di luar kesehatan yang terkait dengan upaya penanggulangan stunting.

Intervensi  spesifik yang diberikan pemerintah dapat dikelompokan berdasarkan sasaran program, yaitu :

   1.  Sasaran ibu hamil dilakukan melalui perlindungan ibu hamil, terhadap kekurangan zat besi, asam folat, dan kekurangan energi dan protein kronis; perlindungan terhadap kekurangan iodium, dan perlindungan terhadap malaria.
2.  Sasaran ibu menyusui dan anak usia 0-6 bulan, dilakukan melalui dorongan pemberian IMD/Inisiasi menyusui dini (pemberian kolostrum ASI), memberikan edukasi kepada ibu untuk memberikan ASI eksklusif, pemberian imunisasi dasar, pantau tumbuh kembang bayi atau balita setiap bulan, dan penanganan bayi sakit secara tepat.
3.  Sasaran ibu menyusui dan Anak usia 7- 23 bulan, dilakukan melalui dorongan pemberian ASI, hingga usia 23 bulan didampingi oleh pemberian Makanan Pendamping-ASI (MP-ASI), penyediaan dan pemberiaan obat cacing, pemberiaan suplementasi zink, fortifikasi zat besi ke dalam makanan, perlindungan terhadap malaria, pemberian imunisasi, pencegahan dan pengobatan diare.

Intervensi sensitif dilakukan melalui bebagai program kegiatan, di antaranya penyediaan akses air bersih, penyediaan akses terhadap sanitasi salah satunya melalui program STBM, fortifikasi bahan pangan oleh Kementerian Pertanian, penyediaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), penyediaan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal), pemberian pendidikan pengasuhan pada orang tua, pemberian pendidikan anak usia dini. universal oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan, Keluarga Berencana (KB), pemberian edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, serta gizi remaja, pengentasan kemiskinan dan peningkatan ketahanan pangan dan gizi.

BACA JUGA :  KAYA SUMBER DAYA, RAKYAT MALUKU UTARA TAK BERDAYA

Stunting tahap awal, dan pencegahan
Stunting yang terjadi pada tahap awal, kehidupan atau usia dini dapat menyebabkan dampak merugikan bagi anak, baik dalam jangka pendek atau jangka panjang. Khususnya, jika gangguan pertumbuhan dimulai pada 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan yang dihitung sejak konsepsi) hingga usia dua tahun. Pada dasarnya stunting pada balita tidak bisa disembuhkan, tapi dapat dilakukan upaya untuk perbaikan gizi guna meningkatkan kualitas hidupnya. Pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini, bahkan sejak masa kehamilan. Pencegahan stunting yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut :

Memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil
Tindakan yang relatif ampuh dilakukan untuk mencegah stunting pada anak adalah selalu memenuhi gizi sejak masa kehamilan.  Ibu yang sedang mengandung agar selalu mengonsumsi makanan sehat nan bergizi maupun suplemen atas anjuran dokter. Selain itu, perempuan yang sedang menjalani proses kehamilan juga sebaiknya rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter atau bidan.

Beri ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan
ASI berpotensi mengurangi peluang stunting pada anak berkat kandungan gizi mikro dan makro. Oleh karena itu, ibu disarankan untuk tetap memberikan ASI Eksklusif selama enam bulan kepada sang buah hati. Protein whey dan kolostrum yang terdapat pada susu ibu pun dinilai mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi yang terbilang rentan.

Dampingi ASI Eksklusif dengan MPASI sehat.
Ketika bayi menginjak usia 6 bulan ke atas, maka ibu sudah bisa memberikan makanan pendamping atau MPASI. Dalam hal ini pastikan makanan-makanan yang dipilih bisa memenuhi gizi mikro dan makro yang sebelumnya selalu berasal dari ASI untuk mencegah stunting.

WHO pun, merekomendasikan fortifikasi atau penambahan nutrisi ke dalam makanan. Di sisi lain, sebaiknya ibu berhati-hati saat akan menentukan produk tambahan tersebut. Konsultasikan dulu dengan dokter.

Terus memantau tumbuh kembang anak,
Orang tua perlu terus memantau tumbuh kembang anak mereka, terutama dari tinggi dan berat badan anak. Bawa si Kecil secara berkala ke Posyandu maupun klinik khusus anak. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi ibu untuk mengetahui gejala awal gangguan dan penanganannya.

Selalu jaga kebersihan lingkungan,
Seperti yang diketahui, anak-anak sangat rentan akan serangan penyakit, termasuk diare, terutama kalau lingkungan sekitar mereka kotor. Faktor ini pula yang secara tak langsung meningkatkan peluang stunting. Sementara salah satu pemicu diare datang dari paparan kotoran yang masuk ke dalam tubuh manusia.

BACA JUGA :  Tanda Tanya Semarak Hari Merdeka Nusa dan Bangsa

Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak stunted, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif. Semoga informasi ini membantu para ibu mencegah stunting, dan meningkatkan kualitas kesehatan anak, Ni  Kadek Widiastuti, SKM, MPH, diolah dari berbagai sumber.

Perempuan memang memiliki peran penting dalam kehidupan suatu bangsa. Namun , dalam bingkai ideologi  Kapitalisme,peningkatan peran perempuan justru fokus pada peran publik dan peran ekonominya . Padahal sesungguhnya  peran perempuan yang utama adalah sebagai ibu dan pendidik generasi. Saat ini justru peran alami inilah yang tergeser dan teralihkan melalui pemberdayaan ekonomi perempuan, Padahal  penghapusan kemiskinan tak cukup pemberdayakan perempuan saja . Pasalnya  kemiskinan adalah masalah global, akibat ketimpangan akses ekonomi yang di hadapi  si  lemah  virsus  si  kuat, baik  dalam tataran negara , masyarakat  ataupun individu .

Parahnya , arus pemberdayaan yang di kembangkan lembaga global , pemerintah dan pengiat genser justru menarik pada ibu untuk mencari nafkah baik karna keterpaksaan,  akibat kemiskinan maupun terpikat dengan isu pemberdayaan perempuan. Akibatnya ibu tidak optimal menjalankan  fungsinya dalam kesehatan pertumbuhan anak,  dan pembentukan  karakter positif. Fatalnya , negara justru sibuk memperhatikan kepentingan para kapitalis, untuk meraih keuntungan materi dan duniawi semata, yang ternyata makin melemahkan  fungsi keluarga .

Boleh saja perempuan mempunyai penghasilan sendiri , namun bukan di posisikan  sebagai pencari nafkah utama. Pendek kata pemberdayaan perempuan tak mampu menyelesaikan permasalahan ekonomi secara tuntas , apa lagi mensejahterakan.

Apalagi alasannya, karena masyarakat, termasuk kaum perempuan, akan tetap berhadapan dengan problem klasik  kapitalistik;  pendidikan mahal, biaya kesehatan yang tak terjangkau, inflasi, kenaikan harga TDL dan  BBM, transportasi berbiaya tinggi  ketidakadilan sistem dan sebagainya.

Penyelesaian yang akan menuntaskan  problem kemiskinan hanyalah dengan menghilangkan  penyebab utamanya, yaitu menghapus sistem yang sudah ada dengan sistem yang Islami. Menegakkan sistem Islam, selain sebagai  wujud keimanan, juga  akan merealisasikan kesejahteraan bagi semua bangsa.

Wallahu a’lam bishawab.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
252

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close